Sabtu, Juli 18, 2020

Aksara dan Romantisme

Mengejawantahkan romantisme itu, anakku, selalu dimulai dari aksara. Mungkin, aksara lah yang akan paling bisa membuat kekasihmu bungah. Bahagia. Tertawa lepas. Aku pernah melihat adegan itu. Suatu hari. Dulu sekali. Saat ayahmu masih bocah. 

Almarhum kakekmu, perantau yang awalnya tiba di sebuah pulau kecil di tengah Teluk Tomini, Pulau Unauna, Sulawesi Tengah, adalah seorang guru. Rupanya ia berbekal ketrampilan aksara khas sukunya. 

Hari itu, nenekmu yang guru SD, lulusan SPG, memegang kertas dan pena. Aku lupa waktu itu duduk SD kelas berapa. Yang kuingat, kakekmu mengambil pena itu lalu menulis. Nenekmu duduk di sampingnya. Menyimak. 

Deretan abjad itu begitu asing. Di mataku. Juga buat nenekmu. Beberapa saat, kakekmu menjelaskan cara ejaan. Nenekmu mengeja beberapa huruf. Sejurus kemudian, perempuan ini tertawa manja. "Oh, namaku ternyata!" ujarnya. 

Derai tawa keduanya tak dibuat-buat. Membuat perhatianku teralihkan dari mainan mobil-mobilan. Rasanya, itu momen paling romantis yang pernah kusaksikan. Ya, kakekmu menulis nama nenek dengan aksara Bugis. Aksara lontara'.

Aku tumbuh sebagai manusia separuh bugis. Di desa yang mayoritas dihuni para perantau bugis. Belajar mengaji pun pakai cara bugis. Membayar guru ngaji dengan upah harian: menimba sumur hingga semua penampungan air penuh.

Ada hal istimewa lain yang selalu kuingat soal aksara ini, Nak. Kupikir, itu yang membuatku selalu merasa masa kecilku penuh warna dan romansa. 

Dulu, di desaku, kala perayaan maulid tiba, ada tradisi barzanji. Kitab yang dibacakan memakai aksara bugis. Jangan kau bayangkan ini maulidan biasa. Durasinya mengalahkan film terpanjang di bioskop 21 yang pernah kutonton. Dimulai selepas isya. Selesai hampir subuh.

Meski tidur dan baru bangun saat jamaah bubar,  aku selalu diajak kakekmu. Ayahmu ini selalu bersemangat. Bagiku, barzanji yang pakai aksara bugis atau aksara arab, sama saja. Maknanya MAKAN ENAK. 

Aku kerap menikmati privilese. Orang-orang belum memulai barzanji kalau aku dan kakekmu belum nongol. Suatu ketika aku protes. 

Ceritanya, malam sebelumnya, kami sekeluarga, pasukan lengkap, ikut barzanji kitab beraksara lontara. Seperti biasanya, aku tertidur. Pagi harinya mengeluh. "Malas ikut barzanji Bugis. Terlalu lama. Sokko' (penganan khas bugis dari beras ketan) dan onde-onde (klepon) sudah keras dan dingin," kataku pada kakekmu.

Rupanya, keluhanku sampai ke panitia pelaksana. Malam harinya, datang Sokko' dan nampan penuh berisi onde-onde hangat. Kamu tau, Nak. Sensasi ketika gula merah klepon yang hangat, pecah dan memenuhi rongga mulut, itu yang paling kusukai! 

Sayang, para tetua berpulang, tradisi barzanji ini pun hilang. Manuskrip sirah Nabi Muhammad SAW yang beraksara lontara itu kini entah di tangan siapa.

                          ***

Konon, para kolonialis menganggap bangsa kita orang-orang Barbar. Liyan. Yang harus ditaklukkan. Mungkin, berangkat dari kesombongan logika Cartesian. Kita dianggap bodoh.

Padahal, nenek moyang kita sudah terbiasa mentransmisikan pengetahuan. Di Jawa ada hanacaraka. Di Bugis ada Lontara. Ada kitab-kitab berbahasa Pegon. 

Jangan rendah diri, Nak. Soalnya, kalau orang Barat menganggap moyang kita gak bisa baca tulis, kakekmu pernah membodohi salah satu dari mereka.

Sewaktu kuliah di IKIP Menado di kisaran tahun 60-an, dia punya dosen dari Belanda. Saat ujian, kakekmu bikin contekan (jangan ditiru ya!) pakai aksara Lontara. "Apa ini!" hardik si dosen. "Surat dari Ibu, Meneer!" Kakekmu lolos.

           ****

Sudah lama aku tertarik dengan La Galigo. Sejak membaca the Bugis-nya Christian Pelras. Orang Perancis. Ini mahakarya, Nak. Manuskrip beraksara lontara yang dinobatkan sebagai epos sastra terpanjang di dunia. Mengalahkan epos Mahabharata. Terimakasih pada kak Andi Aisyah Lamboge yang membantu mendapatkan buku edisi lux ini.

Orang Bugis, kata Pelras, kerap disalahartikan. Semisal disematkan sebagai bangsa bajak laut. Padahal, bukan. Kelak kalian harus juga membaca soal Bugis. Penting bagi kita untuk membaca asal-usul para leluhur. Sudah fitrah....setiap serpihan merindukan asal agar dia merasa jadi bagian sebuah keseluruhan.
Posted by huldi amal
on 7/18/2020
Read More »

Senin, Juli 06, 2020

BENDI

Kerajinan tangan adik saya di tojo-unauna


Kampung saya, Ampana, Tojo-Unauna, Sulteng, begitu majemuk dari komposisi penduduk. Salah satu yang cukup dominan adalah perantau dari Gorontalo. 

Ayah saya, perantau dari Bone, Sulsel, akhirnya membeli sebidang tanah. Membangun rumah. Pemilik sebelumnya adalah seorang Gorontalo, maestro pembuat Bendi, alat transportasi legendaris di kampung saya. Di tempat lain disebut dokar, atau delman. 

Setelah menjual tanahnya, pemilik workshop bendi itu pindah ke seberang jalan. Di situ, saya kerap bermain-main dengan kawan sebaya. Melihat dr dekat pembuatan bendi. Kadang kami dimarahi karena lancang memainkan perkakas berbahaya. 

Selain bentuknya khas, bendi buatan orang2 Gorontalo kukuh dan ramping. Artistik juga. Setiap sisi dilapisi seng dipipihkan lalu dicat warna sesuai selera. 

Kala SMA, saya masih pulang sekolah naik bendi. Waktu pulang kampung terakhir kali, bendi jarang terlihat lagi. Lebih banyak becak motor. Tukang ojek bejibun. Kalau ojek online juga beroperasi, masih kah orang mengenang bendi? Padahal, bendi punya teknik khusus. Kalau kudanya berak saat narik penumpang, jatuhnya di karung. Dipasang di dekat pantat kuda. Letaknya di sisi bawah bagian depan. Kecuali kudanya, maaf, mencret, kotorannya meleset.😀 

Saya terkenang kuda betina milik kami. Namanya Kelly. Dijual murah oleh Om Aruji (alm), si maestro pembuat bendi di depan rumah. Karena Kelly, sy pernah belajar berkuda. Belajar memanah saja yang belum. Wajar kalau belum bisa mengamalkan ayat..."mastna wa tsulatsa wa ruba'..."😁😁 

#kerajinantangan
#kreatif #ampanakota
#tojounauna
Posted by huldi amal
on 7/06/2020
Read More »

Minggu, Juli 05, 2020

Mahakam Bridge

Harapan selalu akan. Di balik mendung awan. Tersungkur selalu dalam syukur. Jangan gaduh dengan keluh. Kelak kau akan menertawai setiap kesementaraan...

Hidup hanya berpindah dari satu masalah ke solusi. Lalu, solusi menjadi soalan baru. Hari yang berganti membuat kita jadi 'baru'. Paksalah diri bahagia. Agar tak luput melihat ragam nikmat dari Tuhan. Atau, bahagialah tanpa alasan. Sebab, jika bahagia butuh alasan, ada resikonya: bahagia hilang saat alasan tadi hilang. 
Samarinda, 5 Juli 2020
Posted by huldi amal
on 7/05/2020
Read More »

Senin, September 22, 2014

homo-animus

“Saya menatap diri saya tengah menatap diri saya sendiri”. (Jacques Lacan).

TERSEBUTLAH seorang pemuda bernama Narsisus (Yunani: Narkissos), dari Thespian. Ketika Narsisus masih kecil, seorang peramal bernama Teiresias berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak ini akan berumur panjang apabila tidak melihat dirinya sendiri. Ia berwajah amat tampan. Ketampanannya membuat banyak orang jatuh cinta.
Tidak seorang pun dibalas cintanya. Perempuan bernama Ekho, frustasi karena cintanya tak bersambut. Dewi Nemesis mendengar doanya lalu mengutuk Narsisus jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Ketika si pemuda melihat bayangan dirinya di sebuah kolam, ia terpesona. Sampai mati, Narsisus terus menatap wajah sendiri.
Dari tokoh mitologi Yunani ini kemudian lahir istilah “Narsisisme”, kerap diartikan kecintaan berlebihan pada diri sendiri. Sigmund Freud, memakainya sebagai pisau analisis gejala patologi dalam kepribadian manusia dan seksualitasnya.
Arti narsis kemudian lebih ‘sederhana’. Utamanya dalam kosa kata anak-anak muda zaman kini. Narsis itu ‘eksis’ dan mejeng di mana saja. Di media sosial, fotomu majang paling unik, paling keren, atau paling ‘konyol’ sekalipun. Pokoknya narsis abis!
Zaman kini Narsisus-Narsisus baru lahir. Menatap wajah tidak lagi dari pantulan permukaan kolam. Berbagai gadget kini menawarkan kamera hingga belasan megapixel. Lewat foto dan mengabadikan video, mereka tenggelam dalam kegairahan dan keasyikan dengan diri sendiri—semacam “narsisisme”, kecenderungan memandang dunia sebagaimana layaknya sebuah cermin. .
Apa saja bisa direkam dengan kamera gadget. Dari wajah hingga aurat. Narsisus zaman modern tenggelam dalam kondisi ecstasy. Segala dimensi dan nilai spiritualitas telah tenggelam. Ekstasi dalam bentuk yang narsisistik tidak lagi merasa perlu membedakan mana moral dan amoral, baik dan tidak baik, rasa malu pun ditolak. Di sini semuanya serba terbalik. Yang imoral itu bikin bangga, buruk tak memalukan, wilayah privasi diumbar tanpa selubung apapun. (lihat Yasraf, 2010, 91)     
Jangan heran, Narsisus zaman kini senang tatkala melakukan kekerasan, merasa bangga saat berlakon cabul, merasa sempurna dengan keburukan. Bahkan, seorang guru madrasah di era gadget bisa mendadak begitu ‘Narsis’. Menyuruh siswinya sendiri melakukan adegan tak senonoh lalu merekam dengan kamera tabletnya.
Pepatah lama, guru gugu ditiru, kini runtuh. Setidaknya, di era ‘Narsisisus’ ala gadget, oknum guru di madrasah Samarinda itu telah bermetamorfosa menjadi homo-animus—mahluk tanpa rasa malu yang penuh gelora hasrat.    

Posted by huldi amal
on 9/22/2014
Read More »