Minggu, Oktober 06, 2013

Suasana baru

Saya ingat pertama kali menjejakkan kaki di kota ini. Ketika itu, lelampu warna-warni berkilauan di sekujur tubuh jembatan Golden Gate Tenggarong. Keindahan lampu-lampu tersebut membuat saya terpesona. saya tiba malam hari. begitu berada di tengah jembatan, saya merasa bergetar. Ini lah kabupaten terkaya yang pernah disebut-sebut dalam pembicaraan beberapa orang dan  saya sempat dengar.
Saya tak pernah menyangka akan mengadu nasib di sini. Saya  memang diajak mertua. Setahun lamanya, saya tinggal di pondok mertua indah. Setahun waktu yang cukup singkat. Lalu,mertua saya meninggal dunia. Istri saya resmi jadi yatim piatu. Saat itu, kami berdua, saya dan istri, sempat ingin pulang kampung. setidaknya pulang dan mengadu hidup di dekat keluarga. entah kenapa, niat itu tak pernah kunjung terwujud. hingga kini, sudah delapan tahun berlalu. Kami hidup dan bertahan tanpa sanak famili. keluarga kami hanya para tetangga dan kenalan. Mereka yang selama ini kerap membantu segala kesulitan yang kami temui di sini. Tapi, begitu lah hidup di perantauan. Kita bisa belajar menyelesaikan masalah apapun. Setiap masalah pasti punya jalan keluar. kami menggantungkan segalanya pada kemampuan diri sendiri. Tanpa melupakan kehadiran, bantuan, juga membantu orang lain.
Tak terasa, saya mulai belajar berdamai dengan segala keinginan. Keinginan-keinginan itu saya simpan rapi untuk skala prioritas hari ini. Saya masih menyimpan cita-cita yang entah kapan bisa saya wujudkan lagi. Saya ingin kuliah. tapi, kepentingan keluarga membuat saya berpikir ulang. Apalagi, profesi istri  sebagai PNS tak bisa ditinggalkan. 
Saya memang harus belajar mensyukuri apa yang ada. Meski sempat menganggur, saya masih bisa kembali berkarir di dunia jurnalistik. saya dan istri bersepakat untuk terus berjuang di kota ini. kami punya cita-cita. tak muluk-muluk. Bisa membina keluarga, mendidik anak-anak yang dititipkan Tuhan, agar mereka kelak bisa bangga berdiri di kakinya sendiri. 
Dua hari belakangan, kami baru menikmati suasana rumah kontrakan baru. berbeda dengan sebelumnya, di mana kami harus berbagi kebisingan dengan para tetangga. Maklum kontrakan tersebut bersekat-sekat. kini, kami bisa sedikit menikmati rumah tunggal. suasana agak tenang karena letak rumah yang sedikit menjorok ke dalam gang. Semoga, di rumah baru ini, semuanya berjalan baik dan keberkahan serta lindungan Allah, senantiasa berlimpah. Juga menjadi titik awal bagi kami bisa membangun rumah sendiri. rumah yang menjadi surga bagi kami.   Amin.
Posted by huldi amal
on 10/06/2013
Read More »

Kamis, Oktober 03, 2013

tamparan si raja hakim

wartawan bertanya pada sang raja hakim itu perihal kata-katanya tempo hari. "koruptor itu pantas dipotong jarinya. biar jadi efek jera". itu kata-katanya sendiri soal korupsi dan efek jera pada pelaku korupsi. ketika itu publik memujanya. banyak yang menggantungkan keadilan konstitusi pada palu di tangannya. 
begitulah dulu. ketika ia bicara soal korupsi dan efek jera, publik bersetuju, bersorak, dan bertepuktangan menyambut ide radikalnya.
kini, semuanya berubah 2 X 360 derajat. pakaian kebesarannya telah sobek. palu yang dipegangnya patah. sang raja hakim jatuh ke titik nadir. menjadi tersangka korupsi, mungkin tak pernah melintas di benaknya. lalu, apakah dirinya ingat soal kata-katanya sendiri tentang hukum potong jari pada pelaku korupsi? lupakah dia?
jawabannya jelas. sang raja hakim itu sama sekali tidak lupa. Begitu lah, ketika ia keluar dari sarang para pemburu korupsi. Dengan pakaian "kebesaran" baru: tahanan KPK. segerombolan wartawan mencegatnya. Dari mulut seorang wartawan, mencuat pertanyaan itu. "Bagaimana dengan hukum potong jari? Jawaban sang raja hakim jelas menggambarkan ia tak lupa dengan kata-kata yang pernah diucapkannya sendiri. hanya saja ia tak memberi jawaban  dengan kata-kata. ia yang kini terpojok di sudut sempit, nyaris tak bergerak, spontan memberi jawaban berupa tamparan kepada si wartawan. Ah, ia semakin lupa. tangannya itu pernah memukulkan palu keadilan. adakah beda rasanya ketika ayunan tangannya mendarat ke wajah wartawan? sepertinya, makin pantas jari tangannya itu dipotong. untuk mengingatkan dirinya, bahwa tamparannya, juga adalah keruntuhan kewibawaan sebuah lembaga yang diamanatkan oleh, sekaligus penjaga gerbang bernama konstitusi.
Apa yang lebih miris dari seorang raja hakim  tertangkap tangan menerima suap? Ini seperti seorang penganjur agama tetapi kedapatan berbuat maksiat. orang pasti terhenyak. Berada pada sikap terbelah, antara percaya dan tidak. tapi, bukankah manusia adalah mahluk dengan segala kemungkinan bisa terjadi. 
entah kutukan apa yang tengah menanti negeri ini di depan sana. seseorang yang pernah berapi-api membicarakan efek jera korupsi kini seolah dipaksa harus menelan ludah sendiri. terjerumus ke praktik nista ini ternyata tak susah. cukup sedikit celah. tinggal dicongkel pelan, sedikit demi sedikit, lalu Rp 3 miliar itu bisa masuk dengan lancar.
sekarang, akan kemana kita menggantungkan palu konstitusi. masihkah kita percaya di dalam Mahkamah ini tak ada lagi mental serupa? Episode cerita sang raja hakim memang baru bagian awal. anggap saja ia nantinya tak terbukti, atau nantinya bisa membuktikan tak korupsi. anggap saja begitu. tapi, pertanyaan kemudian, bagaimana kita menghilangkan celah agar para hakim konstitusi lainnya tak lagi "masuk angin"? andai saja kisah ini ada di buku dongeng, kita tinggal menutup saja buku itu. tak perlu lagi harus tahu ending cerita si raja hakim. Toh hanya dongeng. tapi, ini bukan dongeng. bahkan, ini lebih dari sekadar cerita. ini narasi besar tentang nasib dan perjalanan sebuah bangsa. karena ini perjalanan, kita memang harus melangkah sembari berusaha menepis ketidakpercayaan dan keraguan yang semakin menggelayut. di ujung cerita, mari membayangkan, negeri ini telah lulus dari ujian ketidakadilan, ketidakbecusan, dan kenistaan anak-anak yang dikandungnya sendiri.
Posted by huldi amal
on 10/03/2013
Read More »

Kamis, September 26, 2013

Satu pelajaran lagi.....

Kali ini, ada yang salah dari keputusan saya dalam hal pemberitaan. saya memutuskan menaikkan berita tanpa ada hak jawab dari pihak yang diberitakan. Walaupun saya tetap berusaha meminta reporter untuk mengupayakan hak jawab tersebut. Sebuah berita seharusnya utuh memberi hak jawab ketika diturunkan. Sayangnya, hak jawab itu sulit didapatkan karena kontak narasumber yang memang tidak ada. 
Sekali lagi ini jadi pelajaran. Meski tak perlu mencari pembenaran, harus saya akui bahwa keputusan itu dikarenakan sebuah instruksi. Instruksi untuk tidak lagi sekadar menjalankan jurnalisme bercita rasa datar di hadapan penguasa. kritik harus ada. 
Yang saya tidak tahu, instruksi itu ternyata masih berada dalam wilayah 'abu-abu'. Sejak awal saya mahfum benar, media tempat saya bekerja memang punya proximity (kedekatan) psikologis dengan penguasa di daerah ini. Lalu, ketika ada instruksi untuk 'melawan' dan sedikit garang , saya lantas menduga satu hal. Media ini sudah sadar benar kemana seharusnya mengarahkan wajahnya. Media ini sudah kembali kepada khittahnya untuk melayani kepentingan sebenarnya: publik. 
Keyakinan ini masih utuh sebelum akhirnya sebuah pesan mampir di blackberry messenger (BBM) saya. Saya setuju sekali jika kritikan yang datang ini menyoal soal keberimbangan berita. Kebetulan pesan BBM ini datang dari mantan pimpinan koran saya. Tapi, belakangan, yang lebih disoal adalah kemana kritik pemberitaan tersebut mengarah. 
Dari sinilah saya menyimpulkan, bahwa kebijakan internal redaksi yang saya yakini tadi harus dicermati ulang. Ada hal yang kasatmata tengah terjadi dan belum bisa saya tangkap seutuh-utuhnya. Mungkin ada 'pertarungan' besar di balik ini. Harus diakui, warna kepentingan politik di media ini adalah hal yang paling sukar ditutupi. Lantas, tidak mustahil pula, politik lah yang kemudian 'membelah' sikap dan kebijakan yang terjadi akhir-akhir ini. Bukankah pemeo mengatakan, 'dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan".       
Jika demikian, sebagai jurnalis, hal pertama yang akan saya lakukan adalah memastikan setiap pemberitaan wajib memenuhi hak jawab. Hatta, pemberitaan itu tidak berkaitan dengan kritik apapun kepada penguasa.Ini sudah menjadi tuntutan dan kaidah etika jurnalisme sendiri. Berkaitan dengan kebijakan redaksional, saya memang harus pandai membaca 'tanda-tanda' dan memahami psikologi di internal manajemen media ini. Jika perlu, saya harus mempertanyakannya secara lugas. Apa, mengapa dan bagaimana yang harus kami lakukan terkait arah kebijakan berita.  
Posted by huldi amal
on 9/26/2013
Read More »

Senin, September 02, 2013

Ketika kesibukan menyita kami....

Aku merindukan setiap inci lekuk tubuh perempuanku. Setiap aroma yang pendar dari kulitnya membuatku bergairah. kata-kata cinta yang dia ucapkan hari ini meriungkan sukacita. Memang, semanya bermula dari kesibukan yang menyita waktu-waktu intim kami,akhir-akhir ini. Kami jarang bertemu dalam dekapan yang saling menghangatkan. Malam-malam hanya lewat sebagai periuk penanak letih. Begitu pagi, kami hanya saling tersenyum. Nyaris sekejap. Obrolan-obrolan terasa begitu singkat di sela ruap kopi dan teh manis yang kami seruput bersamaan.
Kesibukan perempuanku memang lebih menyita energinya. Dalam dua pekan terakhir, dia harus berangkat begitu pagi. Pulang tengah malam. Kerap kali dia harus melakukan perjalanan dinas ke kecamatan-kecamatan lain dalam sehari. Saya dituntut untuk menjadi lelaki dan suami lebih penyabar dan lebih memaklumi setiap 'kegaduhan' yang ia bawa sepulang kerja. 
Saya harus mengerti rasa letih yang dia tanggung. Kesibukannya memang luar biasa. Maklum, ada hajatan besar yang membuatnya harus lebih banyak di luar rumah. Karena itu lah, terkadang tugas-tugas rutinnya sebagai ibu saya ambil alih. Anak-anak  kerap lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh dan saya.
Saya sendiri memang harus pulang malam. Karena jam kerja yang sudah sememangnya sebagai pekerja media.
Tapi, ada hal yang bisa jadi hikmah dan kesyukuran tersendiri. Setiap kali ada jeda dari kesibukan, kami memanfaatkannya dengan sangat baik. Kualitas hubungan kami seakan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Keintiman yang terbangun terasa begitu berharga antara kami berdua dan anak-anak. 
Ya, seperti hari ini. Saya merasa begitu menggilai setiap lekuk tubuh perempuanku itu. Tiba-tiba saja saya merasa jatuh cinta, benar-benar membutuhkan dia, dan betapa berartinya dia dalam hidup. Semoga perasaan ini terjaga hingga kami menua. Bila umur kami dipanjangkan oleh-Nya. Amin..amin..ya Allah.   
Posted by huldi amal
on 9/02/2013
Read More »