Minggu, Mei 03, 2009

Lelaki yang melepas rembulan di pekarangan belakang

Malam...
seorang lelaki
saling berbisik tentang ketidakberdayaannya
menjamah jarijemari rembulan

keduanya saling mendengarkan
dititipnya pesan agar ia tak datang lagi
mengganggunya di mimpi-mimpi
dipintanya malam menguapkan angan-angan



Lelaki itu bersama Malam
melepas rembulan di pekarangan belakang...
Posted by si buah terlarang
on 5/03/2009
Read More »

Jumat, Mei 01, 2009

Aku Pulang

sebagai mula, izinkan kubertakzim pada pengakuan. betapa tak mudah menanggalkan.
gairah yang hadir karena pemujaan. wajahmu sungguh menggenang memenuhi angan.

Tapi, kuputuskan untuk pulang
usai kutaklukkan kau perawan
pada ketundukan akan kata
dalam perjamuan makna yang tak bersemaian


Akhirnya aku pulang. Kumelangkah memasuki pekarangan yang seolah lama kutinggalkan. Bidadariku meyambut girang dengan wajah yang dijajah rindu berbilang malam. Bocahku tak kalah riang. menggelantung di pinggang tak ingin berlepas.

Oh, kurasakan lagi damai. kudekat. mendekap. Bersandar lah engkau letih. Dan resah menguap lah. Kini kutundukkan hasrat-hasrat itu. Bidadariku...sungguh kau bagai dahan. Setia pada kepastian. Bahwa di suatu senja, sang elang pulang dari kelana jiwa. Usai menjelajah ujung-ujung benua.

Ranjang ikut merayakan kepulanganku. usai penaklukan itu. Sebab, kutetap Maha Diraja atas jiwa. Yang terbebas dari kudeta balatentara budak. Yang agungkan panji-panji kesenangan raga. Ya!...Kutaklukkan dia di perjamuan makna. perawan itu tersipu lalu ketakutan pada temaram. Meski kupuja dia bak rembulan.


*Didedikasikan untuk yang menolak 'ketelanjangan' dengan alasan apapun. Prinsip, dan smua-smuanya.
Posted by si buah terlarang
on 5/01/2009
Read More »

Selasa, April 28, 2009

Catatan Selasa Malam

Kupeluk dia dan hatiku semakin dirundung rindu
Adakah aku bisa berdekatan dengannya setelah itu?
Kucium bibirnya agar hilang gejolak dihati
Namun hasrat bersua semakin menjadi-jadi

Kerinduan belum lagi terobatkan
Karena dua bibir yang saling bersungutan
Hatiku seakan tak perna padam membara
Kecuali setelah jiwa kami bersanding bersama***


***********

Sore tadi, petir benar berkata, tak berbohong. Gelegarnya yang berkali-kali segera disusul rinai berkepanjangan. Oh...Tuhan, gerangan apa rinai itu. Ia petanda kalut hatiku?

Di seberang sana, pada sebuah tanya, angka ganjil itu mengubah namanya. Menjadi sebuah aksara. Ah, kau tetap juga ganjil ternyata. Aku menghitungnya. Tentunya kumulai dari huruf "A".

Duhai.... aku memang memujamu. Kuakui! tentang hasrat-hasrat liarku. Meski bercintaan mata kita hampir tak pernah ada. Salahkan aku saja! sungguh lancang aku sejak benak hendak melahirkan kata.....telanjur aku pada pinta itu ’sekali saja’...

Kini....ijinkan aku memujamu lagi. Aku janji. Kulecut semua lancangku itu. Pada niatan bercintaan yang kau tak berkenan, tak pernah terbayang kau layaknya pelacur binal...Bahkan jika pun iya, persetan! Sudah kupuja engkau seperti penyangga-penyangga langit....

***********

Tuhan.....kini ajari aku cara memuja semesta-Mu. Yang Kau hamparkan pada gurun, savana, lautan dan gua-gua atau pada mahluk-mahlukMu itu. Segera cabut hasrat-hasratku ini, yang pernah Kau adonkan di lempung hitam dulu....jika tak berkenan Kau mengajarkanku!

Ohhh.....aku pergi darinya dan kini datang lagi padaMu. Tapi, ajari aku memuja keindahannya. Bukankah dia penampakan terindah-Mu, seperti dalam syair-syair para makrifatMu....

Sungguh tak ingin lagi hasratku berpatuh pada keliaran. Jika datang lagi, biar kupendam saja. Bukankah kendali rasa itu sebentuk jihad? Bahkan, pada sebuah sabda; yang mati memendam cinta akan dibalas surga.... Duhai Engkau....himpunkan aku dalam taman cintaMu. Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.



***Ibnuur Rumi seperti dikutip Abdul Qayyim Al-Jauziyah dalam Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.


*Judul diiinspirasi dari syair lagu Doel Sumbang berjudul Catatan Selasa Malam
Posted by si buah terlarang
on 4/28/2009
Read More »

Senin, April 27, 2009

Tabula(h) Rasa

cuma ini kah aku dan kau bisa?
selebihnya tak bisa bisa
pernah kau ingin selingkuh kita
tak hanya canda kata berujung tawa ?

tapi nampak lah sengaja pada rencana
sekadar untuk berselingkuh kata
tak ingin ada singkap selubung rasa
lewat tubuh tanpa busana
di ranjang-ranjang tabula(h) rasa


*didedikasikan untuk yang tak mau mengalah dalam kekalahan akan kata dan hasrat-hasrat liarnya berpendam...
Posted by si buah terlarang
on 4/27/2009
Read More »