Jumat, Februari 25, 2011

TIDUR

Tidur....Semoga kita semua dipanjangkan umur dan bisa berjumpa dengan Jumat besok. Jumat pekan lalu khutbahnya menarik. Saya salat di Masjid dekat rumah yang baru rampung dan baru beberapa kali menyelenggarakan salat Jumat. Si khatib bilang, secara medis tidur manusia yang ideal 8 jam. Jika umur manusia 60 thn, 8:24 (jam) x 60 thn= 20 tahun waktu dipakai tidur.
Bandingkan! Salat 5 x sehari semalam. Anggap saja setiap salat menghabiskan waktu 10 menit. Maka 5x 10= 50 menit. Dengan zikir-zikirnya seusai salat, kita bulatkan saja 60 menit alias 1 jam. maka 1:24 (jam) x 60 thn= 2,5 TAHUN yang kita habiskan untuk salat. Lalu, si khatib mengutip ayat "DEMI MASA. SESUNGGUHNYA MANUSIA DALAM KERUGIAN...."
Saya termasuk orang yang sangat meyakini, berkumpul dengan orang saleh, akan ketularan berkah. Karena itu pula, saya selalu merasa beruntung mengenal seorang kyai 'ajaib' dari Jawa Timur. Memang, kata orang, yang paling tahu seseorang itu wali atau Aulia' (kekasih Allah) adalah para Aulia' sendiri. Saya juga pernah membaca, bahwa ada jumlah ribuan Aulia' yang tidak saling mengenal. Mereka juga tidak saling mengetahui kedudukan masing-masing. Kalau tidak salah ingat ada 4.000 di dunia ini. Tingkatan Aulia' yang ini saya agak lupa istilah sufisme-nya. Lalu, ada jumlah 40. istilahnya wali badal. Katanya, jumlah ini akan selalu terjaga hingga akhir zaman. Jika satu dipanggil Sang Khalik, maka akan ada penggantinya sehingga angka 40 ini tetap terjaga. Tingkatan selanjutnya, berjumlah 3 yang disebut Naqib. Sama juga, angka yang akan terjaga. Hingga tingkatan selanjutnya, 1 orang yang disebut wali Qutub. Demikian pula halnya pada Qutub. Jika ia mangkat, maka salah satu dari Naqib akan menggantikan Qutub. (Hanya Allah, Rasul dan para pewaris Rasul lah yang paling tahu).

Yang pasti, saya bukan termasuk di angka 4.000 itu. Apalagi 40, 3, lebih-lebih 1. Masya Allah. Bukan main hidayah-Nya kepada saya, bahkan jika sudah bisa termasuk di angka 4.000. Membayangkan saja saya sudah tidak sanggup.Saya juga tidak tahu, bagaimana rupa dan sosok seseorang disebut Aulia. Ketidak tahuan yang saya maksud di sini adalah seperti 'pengetahuan' yang dimaksudkan kata-kata orang yang pernah saya dengar itu; hanya (para) wali (aulia) yang paling tahu seseorang itu wali). Kembali pada soal perkenalan dengan kyai yang saya sebut 'ajaib' itu, saya memang percaya dia seorang wali. Meski hanya mengandalkan pemahaman sederhana saya tentang kewalian.
Ketika masih SD, ibu saya sering menceritakan hal-hal biasa yang justru mengisahkan betapa luarbiasanya para wali itu. Kata ibu, dulu ada seorang kakek tua di kampung kami. "Dia seorang wali." Suatu ketika ia berjalan kaki dari kampung yang berjarak puluhan kilometer dengan kampung kami. Apa yang membuktikan dia seorang wali? Sesampai di sini (kampung kami), uwak (sebutan kami untuk orang tua), melihat ada seekor semut di bajunya. Uwak mengingat-ingat dimana ia pernah beristirahat di perjalanan. Uwak lalu kembali lagi ke tempat di mana ia beristirahat hanya untuk mengembalikan seekor semut itu. "Ia berpikir, di situ lah semut tadi berpindah ke bajunya. Padahal, jarak kampung ini dengan tempat tadinya ia beristirahat masih 20-an kilometer," tutur Ibu pada saya. Sampai kini, cerita Ibu itu masih membekas di ingatan saya. Nyaris membatu. Dan selalu saja menjadi semacam 'bahasa Ibu' bagi saya yang jauh dari berpengetahuan ini dalam menafsir tentang kewalian.
Lalu apa kaitannya dengan soal waktu tidur yang saya kutip dari khatib Jumat di awal tulisan ini? Oh tentu saja, saya juga yakin para Aulia itu orang-orang yang menyedikitkan waktu tidurnya. Banyak literatur yang menyebutkan perilaku nabi soal menyedikitkan waktu tidur. Salah satu sabdanya yang masyhur, "jika engkau mengetahui seperti apa yang kuketahui, kau akan sedikit tidur dan jarang tertawa'. Dan para Aulia adalah pewaris nabi. Bahkan, Imam Ayatullah Khomeini yang masyhur dari Iran punya pesan yang menurut saya spektakuler. Bagi saya pula, pesan ini adalah pilar penting dari revolusi Islam yang pernah ia kobarkan di negeri para Mullah. "Wahai kaum muda. Kurangi waktu tidur malammu dan perbanyak membaca al-Qur'an." Dan bagi banyak orang yang bermazhab Syi'i, sang Imam adalah Aulia.

***

Saya persis tahu, kyai yang saya kenal itu sangat menyedikitkan waktu tidur dan makannya. Beberapa kali bersama, beliau bisa tidak tidur dalam tiga hari tiga malam. Hanya minum kopi dan rokok. Khas kyai NU (Nahdlatul Ulama). Saya menyapanya dengan sebutan "Gus". Seingat saya, Gus pernah bercerita pada sebuah dinihari. "Saya kehilangan tempat curhat sepeninggal (alm) Gus Dur," ujarnya. Bagaimana hubungan Gus ini dengan Gus Dur? "Gus Dur mau mencium tangan saya dan saya juga mencium tangan Gus Dur. Kepala kami saling beradu," ujarnya, tergelak. Anehnya, setiap kami berkumpul dengan Gus hingga dinihari, energi saya sepertinya terasa berlipat. Tak ada rasa kantuk jika kongkow-kongkow bersamanya. Rasa kantuk segera menyerang hebat ketika majelis santai itu berakhir. Pada akhirnya, tidur yang ideal secara medis 8 jam sehari semalam. Konon membuat sehat. Orang yang sehat tentu bisa panjang umur. Mungkin umurnya bisa lebih dari 60 tahun. Jika benar, saya ingin hidup lebih dari 60 tahun juga. Tapi, sayang sekali. Saya penderita insomnia. Waktu tidur kurang. Bisa jadi ini memicu saya berumur pendek. Lebih disayangkan lagi, dengan waktu tidur yang pendek, justru lebih banyak membuat saya melewatkan sekian waktu hidup dengan sia-sia. Ah, saya memang bukan Aulia. Tapi biarlah saya termotivasi, minimal untuk terus mengurangi waktu tidur karena khutbah Jumat pekan lalu di masjid dekat rumah itu. Tapi, mohon maaf. Mungkin saya akan melanjutkan tidur saya sebentar setelah memposting tulisan ini. Maklum, semalam begadang hingga pukul 03.00 Wita....Semoga saya dan anda mendapat limpahan rahmat dari Sang Maha Melihat, Tidak Mengantuk dan Tak Pernah Tidur...


TENGGARONG, 13 Oktober 2010.

0 komentar:

Posting Komentar